Labels

Showing posts with label PUISI. Show all posts
Showing posts with label PUISI. Show all posts

Wednesday, October 10, 2018

SAMPAI KAPAN?


Oleh Irwandi Fahruddin

Sampai kapan kita terus bertikai seperti ini?
Merobek unsur terdalam perasaan
Menghancurkan pesona kebaikan.

Sampai kapan kita terus saling sikut seperti ini?
Memaki hati sampai tersakiti,
Menombak argumen sampai terpojok.

Sampai kapan kita terus berseberangan seperti ini?
Menusuk kelakuan baik sampai terpecah-pecah,
Merampok kebebasan berpendapat sampai mengundang kebiadaban.

Sampai kapan?
Entahlah.
Kapan Sampai?
Entahlah.
Nasib negara ini?
Entahlah.
Nasib rakyatnya?
Entahlah.

Palopo, 11 Oktober 2018.

Saturday, October 6, 2018

YOUTUBER PEMULA


Oleh Irwandi Fahruddin

Aku youtuber pemula,
Modal niat kubuat karya
Sederhana menerjang badai ide
Cukup canggih melantunkan asa

Aku youtuber pemula,
Subcriberku cuma dua
Penontonku sepuluh
Sungguh sangat pilu.

Aku youtuber pemula,
Seribu suka yang kuharapkan
Puluhan ribu komentar kudambakan

Aku youtuber pemula,
Target tiga ratus view sudah bahagia
Mencapai seribu rasa melayang-layang

Aku youtuber pemula,
Haters satu terasa sejuta
Bimbang kadang menarik resah
Biar kujambak saja tutur katanya

Inilah aku,
Pantang menyerah
Mencapai tujuan mulia
Tanpa beban apa-apa
Menanggung asa dalam dada
Demi harga sebuah karya.

Salam Youtubers.

Palopo, 6 Oktober 2018
"Ini bukan puisi, hanya corat-coret biasa."

Wednesday, December 30, 2015

SENJATA JATUH CINTA

Irwandi Fahruddin
Hentakan kaki-kaki itu melangkah di jantungku
Entah siapa perintah menghentak itu
Semakin lama, semakin merayu

Tunas tumbuh mengayunkan sepetak rindu tiada tara
Ber-arak menuju hati
Menghentak penuh keindahan

Aku tak sendiri,
Bersama senyum mendendang asa
Warna-warni petuah bersemi

Aku
Jatuh
Cinta

Peluru tajam kata-kata siap melesat hebat
Pedang menguhunus kalimat meragu
Senjata jatuh cinta menggelora dada

Kau dan tameng berjaga jua
Jiwa tak mampu menahan,
Lihai berbuah bahagia

Kau menyerah,
Kau berbalas,
Kau mencinta,

Suara serak bahagia melantun
Bumi sepakat dalam perisai
Kau, milikku

Palopo, 20 September 2015

Sunday, November 15, 2015

MIMBAR PUTIH

Kusaksikan sebuah senandung lirih
Dari balik pengkhianatan
Inikah jalan seorang yang menyakiti dirinya?

Pengkhianatan terhadap Tuhan katanya indah
Menjadi seorang penjahat itu katanya mulia
Menyedihkan
Memilukan

Dialah penopang hidup para lelaki bejat
Dialah pemimpin para perempuan jalang

Kemarin berkali-kali aku menggosok mataku
Apakah yang kulihat benar-benar nyata?
Apakah aku sedang bermimpi?
Ternyata tidak

Sang penjahat itu berdiri kokoh di dalam sebuah rumah Tuhan
Berbicara panjang lebar tentang kebaikan
Mimbar putih itu menjadi saksi
Tentang seorang yang pernah mengkhianati Tuhan

Dia telah menjelma menjadi malaikat
Yang menuntun manusia ke dalam kebaikan sejati

Irwandi Fahruddin
Jakarta, 23 Desember 2012

KOTAKU, TERNODA

Kepulan asap tebal itu membuat setiap sendi jiwaku lemah
Para laskar kebenaran turun ke jalan meneriakkan simbol keberanian
Tak peduli peluru menghadang
Mereka tetap maju

Kepulan asap tebal itu semakin besar
Kota yang indah berubah
Teriakan semakin menggema
Kota seakan runtuh

Kotaku yang nyaman kini ternoda
Pikiran jernih seolah tertutup bagi mereka yang merasa tertindas
Letusan beriringan dengan teriakan protes
Suasana semakin gaduh, tak terkendali
Sungguh menyedihkan wajah kotaku

Kepulan asap tebal tak lagi terlihat
Menghilang bersama teriakan dan letusan
Protes tak terdengar lagi
Apakah esok akan terjadi lagi?
Jawabannya ada pada mereka

Irwandi Fahruddin
Palopo, 27 Januari 2013

Sunday, November 1, 2015

I LA GALIGO MASIH BERNAPAS

Beribu sejarah panjang tergores pena
Cerita tak terlupa
Pedoman bernilai tiada tara
Budaya

Sebuah kisah terpanjang sejagad raya
Bersembunyi di balik tirai kesunyian
Bertahta dalam tanya,
Siapakah pemilikku yang sebenarnya?
Namaku I La Galigo

Singkirkan sejenak pertikaian kata
Maju dan pandanglah dengan penuh cinta
Bertahta dalam jawaban
Kalian adalah pemilikku
Namaku I La Galigo

Goresan penuh cinta terpatri
Jauh dari tempat lahir

Nafas kebahagiaan masih tersisa
Melekat pada jiwa
Ketika rindu membuncah lalu berkata :
Aku ingin pulang,
Rumahku di Luwu
Aku masih bernapas
Namaku I La Galigo


Irwandi Fahruddin
Palopo, 9 September 2015

BIBIR KEHENINGAN

Bunga asmara kian merekah
Bersandar api senandung
Di atas cambuk-cambuk para dewi
Mencari duka silih berganti

Sunyi menuai senyap
Memandang tanya teriris jawab
Sumpah serapah bersenandung
Sakit dan pilu berpadu satu

Sepakat kata berpindah jarak
Dari bibir keheningan mengalun sendu
Hidup tiada arti tanpa sebilah cahaya
Senyap menyantap seluruh isi raga
Jiwa tak mampu meraba
Hening tetaplah hening

Irwandi Fahruddin
Palopo, 25 September 2015

Monday, September 21, 2015

MENYAPA SAHABAT

Sahabat,
Bukan surga bersatu dalam sama
Bukan pula emas berkalung ilalang

Benar kata tiada sakti
Membumbung tinggi menyapa
Salah bertumbuh senandung
Pedih memeluk nurani

Sahabat,
Menyapa dalam pilu
Ini jawaban parau dariku
Desain sunyi berbuah pagi
Maafkan aku



Irwandi Fahruddin
Palopo, 22,September 2015

Tuesday, September 8, 2015

LANGKAH YANG TERHENTI

Hentakan kaki dari juru pecinta
Genggaman erat cita dalam naungan warasnya
Tersenyum kepada langit mendung
Merakit bom untuk menghancurkan dinding ketersiksaan

Dalam ragam perisai semangat
Tetap berdiri jadi pegangan hati
Roboh dalam perjuangan sangat dibenci

Saat diri tak lagi bersandar pada kesanggupan
Langkah menjadi terhenti

Kaki tak mampu mengangkat beban berat yang dipikulnya

Sungguh sebuah langkah yang terhenti

DOA

Tuhan, aku hanyalah sebutir pasir
Kuasa-Mu seluas langit dan bumi
Kasih-Mu selembut yang paling lembut

Hamba ini mengharap ridho dari-Mu
Untuk selalu menjadi manusia yang taat

Tuhan, ampuni aku yang dilumuri banyak dosa
Bersihkanlah jiwa penuh noda ini
Jauhkanlah aku dari siksa-Mu
Masukkanlah aku ke dalam surga-Mu

Palopo, 28 Juli 2012

Sunday, September 6, 2015

PRAHARA KM 35

Langit kelam semakin tampak
Ku lihat wajah dingin alam sekitar
Begitu indah dipandang mata

Hujan tak mau kalah
Menyiram seluruh isi dunia dengan penuh emosi
Sebuah anugerah dikala senyap menghampiri

Tak lama alam menyemburkan kemarahannya
Semua berubah

Dengan langkah ketakutan
Aku menerjang gemuruh yang ada
Ku lihat alam tak mau lagi bersahabat
Hancur semuanya, Hancur lebur tak terhingga

Ku dengar tangis mencekam dari ufuk timur
Ingin rasanya menyelamatkan dunia
Tapi apa daya semua kehendak Tuhan

KM 35 tak terlihat lagi senyum indahnya
Mencekam adalah suasana hatinya

Teriris peih tak tertahankan

Irwandi Fahruddin

CERITA DI BALIK DERITA

Dalam sepi termenung aku menatap beribu kenyataan hidup
Menyatu dalam khasanah semu
Meneteskan air mata kesedihan
Banyak jiwa merana ku saksikan
Merangkul beban terperih

Wahai para penguasa,
Tengoklah sedikit curahan hati yang teriris
Mengharap sepenggal semangat agar tak putus asa

Wahai para penguasa
Lihatlah betapa merindunya mereka
Jiwa yang lapar dan haus akan kejujuran rasa

Saat senja berlalu mengganti sebuah kesedihan
Harapan tetaplah jadi harapan
Menggoreskan sedikit senyuman
Dalam langkah penuh kesengsaraan

Cerita dibalik derita mencerminkan kesedihan membara
Melukis bayang senja terpelihara

Cerita di balik derita

Akankah merasuk ke dalam nadi para pencerah?

Irwandi Fahruddin

BUTIR-BUTIR NESTAPA

Peluru melesat tanpa kenal lelah
Menyerbu luapan emosi berdarah
Tumpukan kematian jadi cerita
Jilatan takdir semakin beringas

Mentari entah kemana
Yang terlihat hanya letusan yang memecah kesunyian
Ribuan manusia beradu satu
Menyeru untuk maju

Perjuangan menjadi benteng semangat
Saat nyawa tak mampu bertahan
Hanya duka membalut luka
Dalam habis sambil berkata

Kita belum kalah

                                                                                               Irwandi Fahruddin

DUDUK DI ATAS BARA API

Temanku, ku lihat wajahmu penuh debu gelisah
Hatimu memberontak nurani
Perahu layarmu tenggelam di laut merana

Untuk apa lagi kau tanam buah berduri
Menusuk setiap desah nafasmu
Memberimu senyum terluka
Hadiah untuk air mata
Bagaikan lautan yang menari

Janganlah duduk di kursi amarah
Kobaran api menyalakan semangatnya
Merantai jiwa yang putih

Janganlah duduk di atas bara api
Panasnya dunia menyiksa hidup

Sirami jiwa dengan kesejukan murni
Padamkan kobaran dengan laut suci


                                  Irwandi Fahruddin  
Makassar, 5 Juli 2011